Namanya Takdir. Semua teman dan sanak saudaranya memanggil demikian. Bukan tanpa alasan ia dipanggil dengan nama yang begitu singkat namun padat makna. Setiap nama memiliki artinya tersendiri bukan?
Jenis kelaminnya perempuan, jika kau penasaran. Tinggi badannya bisa dibilang merupakan rata-rata dari wanita Indonesia. Jikalau saja ia rajin minum susu dan berenang di masa kecil, mungkin ia akan memiliki tinggi semampai seperti model (padahal sudah ia lakukan sewaktu kecil dan membuahkan tinggi 160 cm)
Usianya menginjak kepala dua, jika kau ingin tahu. Ia berhasil menyelesaikan sekolahnya dengan prestasi cemerlang. Ia tumbuh menjadi seorang gadis periang dan memiliki banyak teman. Guru-guru di Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas pun masih mengingat namanya meskipun sudah berselang hampir 3 tahun dari kelulusan SMA nya.
Ia termasuk ke dalam keluarga yang berkecukupan dan berpendidikan. Ibunya lulusan S2 di salah satu universitas terbaik Indonesia. Ayahnya berhasil menyelesaikan kuliah S3 sebelum menikah dan bertemu dengan ibunya. Ayahnya termasuk orang yang dipandang karena memiliki banyak relasi dan menempati posisi strategis di pekerjaannya. Namun, hal itu tidak membuat ayahnya menjadi seorang sosok yang sombong dan gila kekuasaan. Ia tumbuh dengan kasih sayang dan pendidikan moral yang baik. Ayah dan Ibu nya selalu bangga terhadap anak pertamanya itu.
Ia tumbuh menjadi seorang gadis yang selalu dibanggakan keluarganya dan disenangi teman-temannya. Ia memiliki segudang aktivitas namun tidak bermasalah dengan akademiknya. Ia memiliki kehidupan yang begitu seimbang, penuh semangat, sarat dengan cita-cita dan bermanfaat untuk dirinya maupun orang lain. Di usianya yang begitu muda, ia bisa mendapatkan semua yang ia idamkan.
Di usia nya yang berkepala dua, ia menjadi seorang wanita yang mendeklarasikan dirinya sebagai wanita mandiri dan memiliki etos kerja yang tinggi. Tidak mau disamakan sebagai "wanita pada umumnya" ia melindungi dirinya sendiri agar tidak terhasut oleh gemerlap kehidupan remaja dan tenggelam ke lautan cinta yang menurutnya fana. Ia terus berkecimpung di dunia organisasi mahasiwa dan mengambil segudang aktivitas. Ia terus menyibukkan dirinya agar tidak terdistraksi dari kesendirian. Tidak ada satu pun yang mampu menjatuhkan mentalnya.
Hari ini tidak bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke 21. Namun hari ini ia merasakan ada sekeping bagian dari hidupnya yang belum terlengkapi. Terlepas dari cerita kehidupan perkuliahannya yang padat kerja dan karya, ia merasakan penat dan sesak menyelimuti tubuhnya. Pada hari ini, kelenjar air matanya tidak lagi mau berkompromi dengannya. Hari ini langit cerah dan hujan tidak mengguyur kota Bandung kesayangannya. Tapi hujan mengguyur lembut pipi manisnya hari ini.
Namanya Takdir. Entah apa yang menunggunya esok hari, tapi hari ini ia merasa telah terhisap kembali ke dalam ketakutannya. Baginya ini adalah sebuah penyakit berkala yang harus ia hadapi sendiri. Karena baginya parasetamol ataupun antibiotik bukan obat yang ampuh untuk mengobati penyakitnya ini. Pil tidur sudah tidak mampu membuatnya tertidur lelap hingga membuatnya amnesia di pagi hari.
Bandung 13 Februari 2014
Saturday, February 14, 2015
Wednesday, December 17, 2014
Masih Tentang Rindu
Kepulan asap sesaki tubuh di tengah keramaian.
Lampu malam berkelip menggoda.
Semuanya hanyut dalam gempita panggung.
Semalaman ditemani riuh dan manisnya lagu.
Serasa berteduh nyaman di sampingmu.
Karena ingin selalu bersamamu.
Tanpa jarak,
kecuali rindu.
Malam ini malam yang biasa,
kumainkan lagu peneduh tidur.
Entah mengapa mataku masih tetap terjaga.
Diam-diam aku teringat padamu.
Saat dunia berlari kencang,
Aku ingin rebah dalam hangat dan nyaman pelukmu.
Sampai luruh semua resah,
Sampai luntur setiap penat gelisah.
Malam ini malam yang biasa,
Diam-diam aku datang padamu.
Hanya ingin ucapkan sepenggal rindu.
Yang masih saja tentangmu.
Bandung 5 mei 2014
Sebelum Rindu Berganti
Jangan simpan rindu dalam hati
Jangan telan rindu dalam sunyi
Sebelum rindu berganti jemu
Luapkan rindu hingga memadu
Sebelum hujan berhenti membasahi
Tanah kering dan rumput yang disiangi
Karena rindu hanya sementara
Bagi mereka yang setia saling menjaga
Selama rindu membasahi pelupuk mata
Pada senja ia lirih berbicara
Cukuplah rindu dibasuh hujan
Sebelum detik berputar dan dibuat bosan
Sebelum rindu berganti jemu
Izinkan ia lirih mengadu
Hanya padamu ia kembali
Sebab rindu untukmu tak akan berganti
Bandung, 17 Desember 2014
Jangan telan rindu dalam sunyi
Sebelum rindu berganti jemu
Luapkan rindu hingga memadu
Sebelum hujan berhenti membasahi
Tanah kering dan rumput yang disiangi
Karena rindu hanya sementara
Bagi mereka yang setia saling menjaga
Selama rindu membasahi pelupuk mata
Pada senja ia lirih berbicara
Cukuplah rindu dibasuh hujan
Sebelum detik berputar dan dibuat bosan
Sebelum rindu berganti jemu
Izinkan ia lirih mengadu
Hanya padamu ia kembali
Sebab rindu untukmu tak akan berganti
Bandung, 17 Desember 2014
Wednesday, September 24, 2014
Senja
Saat pagi ia tenggelam.
Saat malam ia terpejam.
Tersebutlah ia yang terlupa,
Hangat manis siapa kau kira.
Teruntuk Senja.
Yang sembunyi di balik rutinitas kerja.
Terselip di antara Taman Kota.
Terselip di antara Taman Kota.
Bandung, 24 September 2014
Saturday, September 13, 2014
Peluk
Di luar terlalu bising.
Lama-lama terasa asing.
Tidak usah pecahkan piring.
Biar malam ini ia nikmati hening.
Diam-diam rupanya cicak di dinding
Dalam hati tertawa dilihatnya gadis tersenyum miring.
Cukuplah baginya menerima pening.
Hingga peluk meredam tubuhnya tanpa bergeming.
Bandung 13 september 2014
Tuesday, September 2, 2014
Lelap
Kemudian kita lebih memilih untuk terlelap.
Memilih terpejam mata daripada dihujam kata.
Kemudian kita lebih memilih terlelap.
Memilih matikan nalar berfikir daripada berdebat kusir.
Kemudian kita hanyut dalam dunia lelap.
Memilih tinggalkan masalah dan sisakan bingung tanpa arah.
Dan semakin dalam kita tenggelam dalam lelap.
Segala persoalan terlupakan dan tetap nihil dalam keputusan.
Daripada pusing berfikir hingga sepuluh keliling.
Daripada sesal berbuat hingga gigit jari kelingking.
Kita memilih terlelap.
Kemudian diam-diam berharap.
Karena mimpi terbayang dalam tidur tapi tak terwujud dalam lelap.
Karena puncak tertinggi bukan untuk diratapi tapi dijejaki.
Kemenangan bukan sebuah pemberian tapi perjuangan.
Jangan bersedih, jangan berduka.
Jangan lelap terlalu lama.
Buka mata, telinga dan tegakkan kepala.
Bicara soal mimpi dan cita-cita.
Masih ingatkah kita?
Memilih terpejam mata daripada dihujam kata.
Kemudian kita lebih memilih terlelap.
Memilih matikan nalar berfikir daripada berdebat kusir.
Kemudian kita hanyut dalam dunia lelap.
Memilih tinggalkan masalah dan sisakan bingung tanpa arah.
Dan semakin dalam kita tenggelam dalam lelap.
Segala persoalan terlupakan dan tetap nihil dalam keputusan.
Daripada pusing berfikir hingga sepuluh keliling.
Daripada sesal berbuat hingga gigit jari kelingking.
Kita memilih terlelap.
Kemudian diam-diam berharap.
Karena mimpi terbayang dalam tidur tapi tak terwujud dalam lelap.
Karena puncak tertinggi bukan untuk diratapi tapi dijejaki.
Kemenangan bukan sebuah pemberian tapi perjuangan.
Jangan bersedih, jangan berduka.
Jangan lelap terlalu lama.
Buka mata, telinga dan tegakkan kepala.
Bicara soal mimpi dan cita-cita.
Masih ingatkah kita?
Saturday, August 2, 2014
Jauh
Langit-langit kamar belum runtuh.
Dan resah belum lusuh.
Sudah menginjak subuh.
Tapi mata terjaga, enggan untuk patuh.
Usianya masih dua puluh,
Tapi pikirannya kelewat sepuh.
Bermula dari anggun tangguh.
Hati-hati menuju reyot rapuh.
Jangan memiliki kalau takut kehilangan.
Semua yang dimiliki akan kembali pada sang empunya.
Bukan Dewi atau Dewa..
Tapi Dia, Sang Maha Semesta.
Segenggam tangan diraihnya Dunia.
Setiap rotasi buatnya makin menua.
Dia bukan seorang adigung atau besar kepala.
Apalagi licik dan jumawa.
Otaknya liar berkeliaran hingga mengaduh.
Bukan perkara sulit tapi cukuplah untuknya mengeluh.
Bukan seberapa lama kita menahan peluh,
Tapi seberapa kuat kita bangkit setelah jatuh.
Bandung, 2 Agustus 2014
Dan resah belum lusuh.
Sudah menginjak subuh.
Tapi mata terjaga, enggan untuk patuh.
Usianya masih dua puluh,
Tapi pikirannya kelewat sepuh.
Bermula dari anggun tangguh.
Hati-hati menuju reyot rapuh.
Jangan memiliki kalau takut kehilangan.
Semua yang dimiliki akan kembali pada sang empunya.
Bukan Dewi atau Dewa..
Tapi Dia, Sang Maha Semesta.
Segenggam tangan diraihnya Dunia.
Setiap rotasi buatnya makin menua.
Dia bukan seorang adigung atau besar kepala.
Apalagi licik dan jumawa.
Otaknya liar berkeliaran hingga mengaduh.
Bukan perkara sulit tapi cukuplah untuknya mengeluh.
Bukan seberapa lama kita menahan peluh,
Tapi seberapa kuat kita bangkit setelah jatuh.
Bandung, 2 Agustus 2014
Subscribe to:
Posts (Atom)