Disayang selagi dijalin.
Dibalut peluk dirajam kecup.
Dilanda rindu diserang waktu.
Dibelai kasih dihibahkan nafas.
Ditahan cemas diungkap lemas.
Dimabuk dikepayang.
Logika tersendat ketika kita bicara.
Tidak ada terjemahan kata ketika kita ada.
Karena langit tidak runtuh jika kita berdiri di atas nama pribadi.
Hati-hati berlabuh pada manusia.
Oleng kapal seketika tumpah.
Segala isi dan jati diri sendiri.
Jangan lumpuh, jangan luluh.
Jangan kalah, jangan lemah.
Jangan lupa, jangan lupa.
Sehabis manis, siapa tau sepah dibuang.
Jangan buta, jangan terlena.
Dunia tidak sesempit untuk adam bertemu hawa.
Syukur diucap karena berdua.
Doa dipinta untuk berdua.
Semoga ia wanita mampu tetap berdiri di atas mimpi dan kekuatan diri.
Karena dunia menanti dijelajahi.
Bukan sekedar ditangisi.
Bandung, 15 Juli 2014
Monday, July 14, 2014
Deklarasi
Seorang manusia membuat janji. Tepat tiga tahun yang lalu bernyali.
Sebuah janji untuk ditepati. Untuk dan kepada dirinya sendiri.
Deklarasi indepedensi.
Sebagai seorang wanita, anak dan akademisi.
Dulu seringkali bicara soal mimpi.
Hingga menimbun penuh melampaui.
Otaknya liar, nafasnya terpacu tiada henti.
Begitu nafsu dirinya untuk menghidupi.
Untuk mewujudkan segala imaji dan bayangan mimpi.
Sebutlah dulu ia penguasa.
Akan tubuh dan pikirannya.
Tiada jeruji yang pas untuk menahannya.
Tiada gentar ia hidupkan,kejar segala ingin dan ambisi.
Lalu malam kian berlalu.
Dunianya bukan lagi dunia jelita ceria.
Melainkan penuh taktik, teknik dan politik.
Hingga satu malam ia takluk tertegun malu.
Apa saja yang sudah ia capai di dunia barunya?
Kemana otak yang selalu berpikir dan hati yang siap menetralisasi?
Maka tiba pada suatu malam.
Dimana ia mencoba meraih dunia nya yang lama tenggelam.
Tenggelam oleh cinta dan realita.
Maka tiba pada suatu malam.
Dimana ia mencoba seperti layaknya sedia kala.
Sekedar menaruh coretan pikiran dalam tulisan.
Entah apa yang terlontar.
Tapi yang jelas ia tenggelam.
Dan mencoba hadir kembali.
Meraih dunianya.
Dan menjadi penguasa atas dirinya.
Seorang independen.
Berdiri di atas kaki sendiri.
Bandung, 15 Juli 2014.
Sebuah janji untuk ditepati. Untuk dan kepada dirinya sendiri.
Deklarasi indepedensi.
Sebagai seorang wanita, anak dan akademisi.
Dulu seringkali bicara soal mimpi.
Hingga menimbun penuh melampaui.
Otaknya liar, nafasnya terpacu tiada henti.
Begitu nafsu dirinya untuk menghidupi.
Untuk mewujudkan segala imaji dan bayangan mimpi.
Sebutlah dulu ia penguasa.
Akan tubuh dan pikirannya.
Tiada jeruji yang pas untuk menahannya.
Tiada gentar ia hidupkan,kejar segala ingin dan ambisi.
Lalu malam kian berlalu.
Dunianya bukan lagi dunia jelita ceria.
Melainkan penuh taktik, teknik dan politik.
Hingga satu malam ia takluk tertegun malu.
Apa saja yang sudah ia capai di dunia barunya?
Kemana otak yang selalu berpikir dan hati yang siap menetralisasi?
Maka tiba pada suatu malam.
Dimana ia mencoba meraih dunia nya yang lama tenggelam.
Tenggelam oleh cinta dan realita.
Maka tiba pada suatu malam.
Dimana ia mencoba seperti layaknya sedia kala.
Sekedar menaruh coretan pikiran dalam tulisan.
Entah apa yang terlontar.
Tapi yang jelas ia tenggelam.
Dan mencoba hadir kembali.
Meraih dunianya.
Dan menjadi penguasa atas dirinya.
Seorang independen.
Berdiri di atas kaki sendiri.
Bandung, 15 Juli 2014.
Friday, June 6, 2014
Tentang Rindu
Ada ragu di sudut rindu.
Pelupuk mata terlihat sayu.
Seulam bibir rupanya malu.
Sebut kasih seraya memadu.
Pada malam harap bertamu.
Pada detik terus ditunggu.
Karena tiada jarak kecuali waktu.
Semoga pesan ini tak salah menuju.
Ada ragu di sudut rindu.
Hingga petang terus termangu.
Terus terjang, terus maju.
Sampai batas kita tak tahu.
Bandung, 6 Juni 2014
Pelupuk mata terlihat sayu.
Seulam bibir rupanya malu.
Sebut kasih seraya memadu.
Pada malam harap bertamu.
Pada detik terus ditunggu.
Karena tiada jarak kecuali waktu.
Semoga pesan ini tak salah menuju.
Ada ragu di sudut rindu.
Hingga petang terus termangu.
Terus terjang, terus maju.
Sampai batas kita tak tahu.
Bandung, 6 Juni 2014
Wednesday, June 4, 2014
DO(S)A
Dalam doa terbalut dosa
Sebelum subuh dan setelah isya
Berharap nista terhapus air mata
Apa daya tak sampai jua
Yang Mahakuasa, pemilik semesta raya
Ada rindu dari anak hawa pada Sang Pencipta
Sungguh ia takut akan bencana
Ketika suatu masa kebahagiaan akan binasa
Darah masih merah dan bulan belum purnama
Ia tak bicara namun terpejam mata
Semoga kasih sayang kedua orang tua
Lancarkan jalan doa memenuhi cita-cita
Sebelum pagi dan setelah senja
Dalam diam ia sembunyi memohon doa
Sembah sujud ia haturkan pada Yang Maha
Ya Gusti! Ampuni segala dosa..
Bandung, 5 Juni 2014
Sebelum subuh dan setelah isya
Berharap nista terhapus air mata
Apa daya tak sampai jua
Yang Mahakuasa, pemilik semesta raya
Ada rindu dari anak hawa pada Sang Pencipta
Sungguh ia takut akan bencana
Ketika suatu masa kebahagiaan akan binasa
Darah masih merah dan bulan belum purnama
Ia tak bicara namun terpejam mata
Semoga kasih sayang kedua orang tua
Lancarkan jalan doa memenuhi cita-cita
Sebelum pagi dan setelah senja
Dalam diam ia sembunyi memohon doa
Sembah sujud ia haturkan pada Yang Maha
Ya Gusti! Ampuni segala dosa..
Bandung, 5 Juni 2014
Monday, April 14, 2014
Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater
Pada hari yang istimewa,
Kampus Ganesha menjadi saksi.
Dengan ijazah di tangan dan toga di atas kepala.
Kami berdoa dan berjanji:
"Dan kami adalah mahasiswa,
Gelar ini bukti bakti pada bumi pertiwi.
Dari tangan rakyat kami dipinta,
Kepada dekapan rakyat kami kembali.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa,
Senantiasa melindungi ilmu dan mimpi kami.
Amin.”
Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater.
MERDEKA!
Bandung, 12 April 2014
Ketika kami mahasiswa berkasih dalam gempita pelepasan ratusan sarjana.
Semoga dari tangan kebaikan mereka Negeri ini bangkit kembali.
Friday, April 4, 2014
Doa Lima Bulan Baru
Sudah larut dan kamu belum berselimut.
Otakmu terjaga hingga pagi yang menjemput.
"Sedikit lagi", ucapmu lembut.
Rupanya perang belum selesai bergelut.
Seliar kuda segagah singa.
Taklukmu pada dunia, bukan manusia.
Nafasmu membalut mimpi sepanas bara.
Karena sungguh bagimu lelah hanya sementara.
Sudah lima kali bulan berganti.
Kakimu tetap kencang terus berlari.
Pertajam strategi perjuangkan mimpi.
Karena bagimu perang adalah harga mati.
Teruntukmu petarung dan pemimpi,
Waktu tidak membunuh,hanya melumpuhkanmu.
Sedikit lagi perang berganti menang.
Dan doa setelah senja ini adalah untukmu.
Semoga Tuhan memeluk dan melindungimu.
Senantiasa mengasihi dan menguatkanmu.
Mengiringi dan memudahkan langkahmu.
Dari ridho-Nya lah Dia menjadikanmu.
Seorang pemimpin, teladan dan pembaharu.
Amin.
Amin..
Amin...
Otakmu terjaga hingga pagi yang menjemput.
"Sedikit lagi", ucapmu lembut.
Rupanya perang belum selesai bergelut.
Seliar kuda segagah singa.
Taklukmu pada dunia, bukan manusia.
Nafasmu membalut mimpi sepanas bara.
Karena sungguh bagimu lelah hanya sementara.
Sudah lima kali bulan berganti.
Kakimu tetap kencang terus berlari.
Pertajam strategi perjuangkan mimpi.
Karena bagimu perang adalah harga mati.
Teruntukmu petarung dan pemimpi,
Waktu tidak membunuh,hanya melumpuhkanmu.
Sedikit lagi perang berganti menang.
Dan doa setelah senja ini adalah untukmu.
Semoga Tuhan memeluk dan melindungimu.
Senantiasa mengasihi dan menguatkanmu.
Mengiringi dan memudahkan langkahmu.
Dari ridho-Nya lah Dia menjadikanmu.
Seorang pemimpin, teladan dan pembaharu.
Amin.
Amin..
Amin...
Sunday, March 23, 2014
Kampusku
Hari ini kampusku berbicara.
Tentang isu pemimpin yg penuh tanda tanya.
Ada yang pro, lebih banyak yg kontra.
Para swasta berebut unjuk ide dan suara.
Hari ini kampusku berbicara.
Para elitis angkat kepala.
Terang-terangan mencerca sebuah sistem buatan panitia.
Mereka bilang adalah cacat dan banyak cela.
Hari ini kampusku kembali berbicara.
Tapi bagiku tak ubahnya sebuah bencana.
Mahasiswa sebuah institusi ternama katanya cinta Indonesia.
Tapi pilih pemimpin sendiri pun tak bisa.
Malah berebut tahta dan putar balikan fakta.
Hari ini kampusku menelan kecewa.
Karena mahasiswanya hanya sibuk bertanya.
Sibuk menjatuhkan dan menyalahkan sesama.
Senang mencerca dibanding membangun bersama.
Hari ini kampusku berduka.
Mahasiswa nya sibuk mengurus masalah norma.
Tapi bertindak tak tahu etika.
Silakan habiskan malammu pemuda.
Berkutat pada kompromi dan keangkuhan tiap kepala.
Semoga pagi yang buatmu membuka mata.
Bahwa kampusmu terlalu kecil bicara soal presiden keluarga mahasiswa.
Hati-hati nanti jatuh,
Atas angkuh berat kepalamu sendiri.
Bandung,8 Maret 2014
Subscribe to:
Posts (Atom)