Hari ini masih jadi hari yang biasa.
Tapi rupanya hujan enggan untuk mereda
Sembari angin menelusup masuk jendela
Rasanya banyak pesan alam mulai menyapa
Bermimpi menjelajah dunia
Punya segudang mimpi masa muda
Idealisme siswa beranjak jadi mahasiswa
Tapi agaknya mulai terkikis semua
Seiring hujan yang menghantam lembut panorama senja
Hari ini tetap hari yang biasa
Dimana anak kucing berleha-leha
Tidur seharian di atas sofa
Sedangkan aku hanya diam saja
Agaknya hari mulai tidak biasa
Teringat celoteh seorang calon sarjana
Dengan lirih namun tajam dia berkata,
"Jangan bermimpi untuk memimpin Negara,
Kalau urus diri sendiri pun tak bisa!"
Hujan selalu jadi pengingat sebuah masa
Ketika pemuda punya seribu rencana
Dan sekarang terancam sekedar jadi cerita
Padamu hujan yang mulai malu untuk mereda
Ingatkan pada kami yang mulai lupa,
Untuk apa kami berusaha dan berdoa
Demi semua mimpi dan cita-cita
Sempurnakan bangga dan sematkan dalam dada,
Untukmu Garuda,
Hari-hariku mulai berwarna.
Monday, October 14, 2013
Sunday, October 13, 2013
FI(RASA)T
Kita terlalu naif bicara soal rasa.
Selalu coba terjemahkan makna.
Beribu tanda berusaha diterka.
Namun semua luput tak sesuai realita.
Sudah lama berkelana.
Tapi tetap takut tuk terbuka.
Maka firasat dijadikan senjata.
Kepada siapa rasa berpunya.
Karena bahagia adalah sederhana.
Cukup ada aku dan kamu di dalamnya.
Kita bisa jadi sama dalam semua.
Tapi bicara soal rasa, samakah kita?
Memang naif bila bicarakan rasa.
Tapi kian hari firasat kian meraja.
Dan kepada semesta,
Aku sematkan doa dan sebuah nama.
Semoga kali ini benar adanya.
Kaulah firasat tempatku bermuara..
Bandung, 13 Oktober
(Doa entah untuk siapa,nama kita akan selalu dijaga)
(Doa entah untuk siapa,nama kita akan selalu dijaga)
Jauh Padahal Kau Begitu Dekat
"Sejauh-jauhnya orang tersesat adalah dari dirinya sendiri."Ya Gusti Nu Agung..
Semoga aku tidak termasuk golongan yang tersesat,
karena jauh dan ingkar kepadaMu.
Jangan jadikan aku golongan yang tersesat,
karena lupa dan lari dari padaMu.
Ya Gusti Nu Kuasa..
Jika aku termasuk golongan yang tersesat,
tunjukkan kembali kemana arah kakiku harus melangkah.
Jika aku termasuk golongan yang tersesat,
terangkan dan bawa aku kembali kepada yang Kau rencanakan.
Ya Gusti Nu Penyayang...
Hapunten kana samudaya kalepatan..
Ya Gusti..
Ya Rabb..
Nyuhunkeun pitulung kana samudaya kasesahan,
kana samudaya cobian.
kana samudaya perkara,
kana samudaya kelemahan,
kana samudaya urusan..
Nyuhunkeun kakuatan kana samudaya kasedih..
Kana sadayana Ya Rabb..
Mugi diraksa ditangtayungan..
Ya Gusti..
Ya Gusti..
Ya Gusti..
Ya Rabb!
Bandung, 13 Oktober
*Bahkan lidahmu kelu untuk berdoa lebih banyak,hanya sanggup panggil nama Ya Rabb berulang2..
(maaf ya mix and match sunda Indonesia, maklum kalau doa bisa dual bahasa hehe)
Doa Untuk Pejuang Malam
"Pada sepasang mata siapa kita mampu melihat dunia?"Semoga tiap pasang memiliki jendela dan terbuka untuk keduanya melihat dengan nyata.
Dan dunia menjadi sederhana dalam sebuah pertemuan namun menjadi kompleks dalam sbuah pembicaraan.
Dan sederhanakan dunia, untuk kita bergembira di dalamnya
.
Cukuplah bertemu dengan tidak sengaja, jalani dengan sederhana.
Maka hidupkan bahagia dan kamu merasa sempurna.
Pada tunduk malu dan rasa terpadu, sepasang nama bertamu.
Dan pada senja, mulai menerka.
Adakah sama dunia?
Maka apa yang salah dengan sama, apa yang takut dengan berbeda?
Karena dua bukan berarti bersama dan satu bujan berarti sendiri.
Kepada penguasa ada kiriman doa.
Berisi berjuta semoga.
Semoga doa tidak dikuasai rasa dan tidak berakhir jadi noda berdusta.
Kepada penjaga semesta ada kiriman doa.
Semoga manusia tidak lagi terlena.
Semoga tidak lagi jatuh pada lubang yang sama.
Kepada dunia ada paket sejuta doa.
Tolong manusia-manusia yg kebingungan dan takut akan bencana.
Beri jalan terang dan ketenangan jiwa.
"Manusia mana yg mampu menerka rencanamu, Tuhan?"Maka berilah kekuatan agar mereka percaya.
Sebuah tanya untuk seribu ketakutan, seribu kebimbangan.
Maka tundukkan hati dan ucapkan doa.
Semoga tenang jiwanya...
Manusia hanya mampu merasa, sibuk menerka.
Dan semesta yang punya rencana.
Maka kuatkan hati dan tenangkan jiwa..
Kepadamu manusia malang, diganggu ketenangan dan percikan alam.
Cukupkan untuk pertanyaan seribu malam.
Jangan lumpuhkan kaki di medan perang, cukup hati yang kau serang.
Dan seribu pejuang seketika tumbang.
Ada kiriman doa untuk Sang Pencipta.
Tolonglah manusia yang takut dan kebingungan.
Maka lemah hatinya dan takluk pada malam.
Semoga senantiasa yang terbaik bagi pejuang malam.
Di mana kata-kata menjadi pedang dan hati menjadi tameng gadang.
Seorang Soe Hok Gie pernah berkata,
"Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta"
Dan perkataan Gie adalah antitesis bagi pejuang malam.
Cepat berakhirlah perang, bagimu pejuang..
Doaku menyertaimu...
Dialog di Bawah Pohon
Ada suatu tempat di mana manusia berbicara.
Kepada lawannya dia berkata, lalu apa tanggapnya?
Maka apa makna sebuah diam?
Kalau ada satu hal yang tidak boleh dipenjarakan, itu adalah gagasan.
Karena gagasan adalah kebebasan, semua berhak berbicara.
Jika tidak berani berbicara, diamlah.
Jika takut tidak diterima, diamlah.
Jika mrasa paling benar,diamlah.
Jika merasa paling salah, diamlah.
Silakan berdiamlah sampai kebohongan berbicara.
Berdiamlah sampai resah buat kau gelisah.
Berdiamlah sampai kemunafikan buat kau geram.
Jangan takut tidak didengar, takutlah karena tidak akan dikenal.
Jangan malu jika salah, malu lah jika merasa paling benar.
Jika mau dicintai semua orang jadilah yang mereka mau.
Bersyukurlah jika itu ada apa padamu, maka kamu ditakdirkan untuk memimpin di dalamnya.
Bersabarlah jika tidak ada padamu, takdirmu adalah memipin di tempat yang sudah ditentukan.
Jangan malu jadi diri sendiri, malu lah karena dikenal bukan atas dirimu sendiri.
Hidup bukan soal kebenaran dan koleksi pencitraan.
Bukan soal netral dan toleransi akan kesalahan.
Katakan salah jika salah.
Katakan benar jika benar.
Jangan mempersalahkan kebenaran dan menyalahkan kebenaran.
Lebih baik mati dan dikenal sbagai diri sendiri, daripada hidup dan sengsara tak jadi diri sendiri.
Bahkan seorang Soe Hok Gie pun berkata,
Semoga semangat yang membuat kita bertahan.
Semoga ketulusan yang membuat kita dimudahkan.
Dan semoga kesederhanaan yg membuat kita mau mendengar dan belajar.
(Dibuat di Bandung, di bawah sebuah pohon rindang suatu kaum kembali mencoba dialog segala arah)
Kepada lawannya dia berkata, lalu apa tanggapnya?
"Pada siapa lagi kita bisa berani selain pada diri sendiri?"Pikiran bisa memperluas pandangan, perkataan bisa meringkas gagasan, tindakan bisa menyederhanakan pikiran.
Maka apa makna sebuah diam?
Kalau ada satu hal yang tidak boleh dipenjarakan, itu adalah gagasan.
Karena gagasan adalah kebebasan, semua berhak berbicara.
Jika tidak berani berbicara, diamlah.
Jika takut tidak diterima, diamlah.
Jika mrasa paling benar,diamlah.
Jika merasa paling salah, diamlah.
Silakan berdiamlah sampai kebohongan berbicara.
Berdiamlah sampai resah buat kau gelisah.
Berdiamlah sampai kemunafikan buat kau geram.
Jangan takut tidak didengar, takutlah karena tidak akan dikenal.
Jangan malu jika salah, malu lah jika merasa paling benar.
Jika mau dicintai semua orang jadilah yang mereka mau.
Bersyukurlah jika itu ada apa padamu, maka kamu ditakdirkan untuk memimpin di dalamnya.
Bersabarlah jika tidak ada padamu, takdirmu adalah memipin di tempat yang sudah ditentukan.
Jangan malu jadi diri sendiri, malu lah karena dikenal bukan atas dirimu sendiri.
Hidup bukan soal kebenaran dan koleksi pencitraan.
Bukan soal netral dan toleransi akan kesalahan.
Katakan salah jika salah.
Katakan benar jika benar.
Jangan mempersalahkan kebenaran dan menyalahkan kebenaran.
Lebih baik mati dan dikenal sbagai diri sendiri, daripada hidup dan sengsara tak jadi diri sendiri.
Bahkan seorang Soe Hok Gie pun berkata,
"Lebih baik diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikan."
Semoga semangat yang membuat kita bertahan.
Semoga ketulusan yang membuat kita dimudahkan.
Dan semoga kesederhanaan yg membuat kita mau mendengar dan belajar.
"Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu. Jadilah saja dirimu, sebaik-baiknya dirimu sendiri "
-Soe Hok Gie
(Dibuat di Bandung, di bawah sebuah pohon rindang suatu kaum kembali mencoba dialog segala arah)
Friday, October 11, 2013
Jangan Bicara
Jangan bicara cinta,
Bila melipat selimut saja tak bisa.
Jangan bicara cinta,
Bila sembahyang masih ditunda-tunda.
Jangan bicara cinta,
Bila belajar selalu jadi wacana.
Jangan bicara cinta,
Bila waktu simak berita pun tak ada.
Jangan bicara cinta,
Bila masih acuhkan orang tua.
Jangan bicara cinta,
Bila tugas sebagai pemuda belum terlaksana.
Jangan bicara Indonesia,
Bila cinta pun kau tak punya.
Uruslah dirimu sebaik-baiknya dirimu.
Tinggikan ilmu setinggi-tingginya langit membiru.
Jadilah nakhoda atas hidupmu.
Dan sampai saat itu tiba,
Jangan...
Jangan bicara, cinta!
Tuesday, September 3, 2013
Catatan Untukmu Para Calo(n) Pemimpin
Atas nama PEMILU 2014
Negeri tempat kami berdiri,
akan memilih lagi untuk kesekian kali.
Kepada siapa tahta
kekuasaan akan dipegang kendali?
Negeri tempat kami
mengabdi, akan berpesta kembali.
Dengan iming-iming
demokrasi,
Dimulailah konvensi dan
kompetisi,
Antara para pemegang nama
dan jabatan tinggi.
Mulai bermunculan
kandidat terkuat dari setiap partai.
Lalu, benarkah mereka semua bertujuan suci?
Ingin mengembalikan
kemakmuran di negeri ibu pertiwi.
Para pendahulu kami pun
dulu berjanji,
Akan mengutamakan
kepentingan rakyat tanpa terkecuali,
Akan menurunkan
kemiskinan dan berantas korupsi,
Akan membawa kehormatan
ibu pertiwi di kancah luar negeri,
Namun, apa yang bisa dilihat
kini?
Kami hanya para pengguna
hak asasi,
Kami tak segan lontarkan
hujatan dan opini,
Silakan pikat kami dengan
megahnya orasi.
Silakan kau rayu kami
dengan mimpi-mimpi.
Sungguh, kami tidak butuh
pesta demokrasi.
Kami hanya butuh pemimpin
yang berani.
Sosok yang tulus dan mampu mencintai,
Dengan ikhlas mau
mengayomi,
Dengan tegas mampu
gunakan kendali,
Dengan jujur tidak
bermain monopoli ekonomi.
Kami butuh pemimpin.
Bukan pemegang jabatan pribadi,
Atau tokoh politisi,
Atau sosok yang sering pamer prestasi,
Atau tokoh yang memegang siaran stasiun televisi.
Bagimu (yang katanya) para
calon pemimpin negeri.
Silakan ingat kata-kata
kami,
Sebelum kau berani acungkan
jari.
“ Tidak ada sebesar-besarnya
pengkhianatan, selain pada negeri sendiri.
Tidak ada serendah-rendahnya
manusia, selain pengkhianat bangsa sendiri.
Tidak ada seburuk-buruknya
pengkhianat, selain pemimpin yang berdiam diri.
Dan semoga dari tangan
orang-orang baik,
Negeri ini mampu bangkit
kembali.”
Subscribe to:
Posts (Atom)